Some of historian believe that Jailolo is the oldest kingdom at Moluccas. From this kingdom spread become Ternate, Tidore, and Bacan Kingdom. It’s just one of so many version of Moluccas history, because another historian believe that Bacan is the oldest one. But we are not talking about who’s right or wrong, are we...?
Let’s start talking about Moloku Kie Raha
Moloku Kie Raha secara harfiah dapat diartikan sebagai empat gunung Maluku, yaitu Gunung Gamalama (Ternate), Gunung Matubu (Tidore), Gunung Ibu (Jailolo), dan Gunung Sibela (Bacan). Namun ada makna yang lebih dalam dari sekedar hal diatas. Makna gunung diatas lebih merupakan kiasan untuk menyebut kesultanan tempat keempat gunung diatas berada. Deeper meaning indeed...
Moloku Kie Raha merupakan sebuah persekutuan antara 4 buah kesultanan terbesar yang ada di Kepulauan Maluku pada abad ke-14 yang dilaksanakan di Pulau Moti, atas prakarsa Sultan Ternate. Keempat kesultanan yang datang dalam penandatanganan perjanjian persekutuan tersebut adalah Sultan Ternate, Sultan Tidore, Sultan Jailolo, dan Sultan Bacan. Tujuannya adalah untuk membentuk sebuah aliansi baru dan meredam pertikaian antar kesultanan tersebut, serta pembagian peran antar kesultanan tersebut.
Akan tetapi diantara keempat kesultanan tersebut, Jailolo merupakan kesultanan yang paling sedikit mendapatkan perhatian khalayak ramai. Hal ini dapat dimaklumi sebab Kesultanan Jailolo telah kehilangan eksistensinya semenjak abad ke 17 dan kemudian terkonfigurasi kedalam Kesultanan Ternate setelah Sultan Jailolo terakhir wafat. Sedangkan ketiga kesultanan lainnya (Ternate, Tidore, dan Bacan) sampai sekarang masih tetap eksis. Tak heran jika para sejarawan menjuluki Jailolo sebagai the hidden kingdom of Moloku Kie Raha. Ironic...
Tetapi beberapa tahun yang lalu, atas inisiatif dari Sultan Ternate maka Kesultanan Jailolo dihidupkan kembali setelah kehilangan eksistensinya selama ratusan tahun. Penobatan sultan ini dilaksanakan di Keraton Kesultanan Ternate. Hal ini tak lain adalah untuk kembali menjaga eksistensi Moloku Kie Raha sebagai lambang dari persaudaraan masyarakat Maluku Utara. Sebab tanpa Kesultanan Jailolo maka tidak akan pernah ada Moloku Kie Raha.
Jailolo here I come...
Untuk mencapai Jailolo dari Ternate ternyata cukup mudah, ada banyak rute menuju kesana. Rute pertama adalah dengan cara menggunakan speedboat menyeberang ke Sidangoli (Pulau Halmahera) dan kemudian dilanjutkan dengan kendaraan darat, bagi yang tidak terlalu menyukai perjalanan laut. Atau memilih rute kedua yang jauh lebih mudah, yaitu langsung menggunakan speedboat dari Pelabuhan Dufa-dufa (Ternate) langsung ke Pelabuhan Jailolo. Up to you guys... but I rather choose the last one, easy way and simply.
Perjalanan dari Ternate ke Jailolo cukup lama juga, hampir memakan waktu satu jam. But believe me guys, you wouldn’t bored at all. Selama perjalanan ini, mata kita akan dimanjakan oleh keindahan laut khas Maluku yang sudah melegenda, sungguh sulit untuk mencari tandingannya. Air laut yang biru berpadu dengan cerahnya langit, belum lagi pulau-pulau kecil yang masih hijau dan umumnya berbukit-bukit. Such a perfect combination, created by God the almighty...
Sebelum sampai di Pelabuhan Jailolo, dari kejauhan kita sudah dapat melihat Gunung Ibu, sebuah gunungapi yang menjadi landmark dari Jailolo. Gunung Ibu merupakan salah satu dari simbol Moloku Kie Raha, selain tiga gunungapi lainnya, yaitu Gunung Gamalama di Ternate, Gunung Matubu di Tidore, dan Gunung Sibela di Bacan.
Jailolo
Finally arrived at Jailolo. Pelabuhan Jailolo tidaklah terlalu besar tapi cukup ramai arus kendaraan laut yang melintas disini. Puncaknya tentu saja pada saat pelaksanaan Sail Jailolo yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu. Semenjak pelaksanaan kegiatan tersebut, denyut perekonomian di Jailolo sebagai ibukota dari Kabupaten Halmahera Barat mulai berdetak dengan cepat. Potensi wisata yang selama ini agak terabaikan pun mulai bangkit kembali.
Jailolo memang dianugrahi dengan kondisi alam yang sangat indah, terutama potensi laut lengkap dengan terumbu karangnya. Tak salah jika Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat berusaha menggenjot potensi ini sebagai objek wisata andalan disamping wisata sejarah Kesultanan Jailolo sebagai salah satu dari tonggak Moloku Kie Raha. Let’s wish all the best for it...
Dari pelabuhan, Kota Jailolo ternyata masih cukup jauh. Untuk mencapai pusat kota dari pelabuhan hanya tersedia angkutan ojeg, sedangkan angkutan umum lainnya masih belum ada. At least, setelah tawar menawar sejenak dengan tukang ojeg, jadi juga berangkat menyusuri jejak peninggalan Kesultanan Jailolo. Tujuan utama tentu saja Keraton Sultan dan Mesjid Kesultanan Jailolo.
Ternyata letak keraton ini lumayan jauh dari pusat kota, letaknya persis dipinggir pantai, namun harus mengambil jalan yang memutar dari pelabuhan tadi. Butuh waktu hampir setengah jam dengan menggunakan ojeg untuk mencapainya. Untunglah jalanan yang dilalui sudah lumayan bagus, sudah beraspal walaupun sebagian besar juga sudah mulai berlobang disana-sini. Not bad at all...
Sebelum mencapai keraton, sengaja kami berhenti sejenak. Nothing special, but I saw a traditional house of Jailolo, they call it Sasadu. Seperti biasanya, akhirnya rumah adat Jailolo ini harus menerima nasib untuk diabadikan dengan kamera poket digital yang setia menemani perjalananku. Konon Sasadu hanya dapat ditemui di Halmahera Barat, khususnya di Jailolo dan sekitarnya. Walaupun bangunannya sangat sederhana, namun tentu mempunyai makna yang sangat dalam bagi kehidupan masyarakat disini. Karena rumah ini merupakan tempat untuk bermusyawarah maupun upacara adat.
Keraton Jailolo
Unbelieveable. That’s the first word that running throught my head. Seakan tidak percaya dan terperangah saat pertama kali melihat bangunan keraton tersebut. Kesan pertama tentu saja sangat mengejutkanku. Bangunan Keraton Jailolo ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kebesaran sebuah bangunan keraton, sangat sederhana kalau tidak mau menyebutnya mengenaskan. Sorry guys, I have to tell you the truth right...?
Hanya kibaran bendera merah putih yang terletak halaman depan keraton saja yang mungkin menunjukkan pada kita bahwa bangunan ini bukanlah sebuah bangunan biasa. Selebihnya bangunannya tak berbeda jauh dengan perumahan penduduk biasa, bahkan kondisinya agak memprihatinkan. Tapi dibangunan sederhana inilah Sultan Jailolo bertempat tinggal bersama permaisurinya. Beyond of my imagination...
Saat itu kami diterima oleh permaisuri sultan yang sudah sangat sepuh, beserta beberapa anggota keluarga yang kebetulan tinggal disana, sementara sultan kebetulan tidak berada di keraton pada saat itu. Just for a while, hanya berupa perbincangan singkat, maklum perbincangan kami terkendala oleh masalah bahasa, serta waktuku yang sempit. Walaupun hanya sebentar, akan tetapi satu hal yang pasti, they are really kind and charming...
Ternyata bangunan keraton ini hanyalah tempat tinggal sementara bagi sultan, sebab saat itu pemerintah Kabupaten Halmahera Barat tengah membangun sebuah keraton baru yang jauh lebih layak dilokasi baru pula. Akan tetapi bangunan keraton lama tetap akan dipertahankan keberadaannya, karena disanalah lokasi awal berdirinya Kesultanan Jailolo, setidaknya yang dipercaya oleh masyarakat setempat.
Mesjid Kesultanan Jailolo
It’s time to back to Ternate. Sebelum kembali ke Pelabuhan Jailolo, sengaja terlebih dahulu singgah sejenak ke Mesjid Kesultanan Jailolo yang terletak dekat pusat kota. Yup, another heritage of Jailolo Kingdom beside The Palace of Sultan is Mosque of Sultan Jailolo.
Bangunan mesjid ini sebenarnya tidak ada yang terlalu istemewa, namun tetap memiliki daya pikat tersendiri. Terutama bentuk atapnya yang khas, tipikal dari bangunan mesjid kuno yang ada di Indonesia. Umumnya atap mesjid kuno yang terdapat di Maluku Utara (Ternate, Tidore, dan Bacan), mempunyai bentuk yang sama.
Enough about Jailolo, the first chapter of Moloku Kie Raha. Next time we will talking about Tidore, Ternate, and Bacan.
To be continued...
0 komentar:
Poskan Komentar